Sabtu, 15 Oktober 2011

Mengindetifikasi Tema Dan Ciri-Ciri Puisi Kontemporer Melalui Kegiatan Membaca Buku Kumpulan Puisi Kontemporer


Seoarng penyair menciptakan puisi pada hakikatnya karena ingin mengabadikan apa yang dilihat, didengar, derasakan, dan dipikirkannya. Proses pengimajinasian atau pengembangan pengalaman lahir batin tersebut merupakan awal proses kreatif. Proses kreatif kemudian di lanjutkan dengan pengekspresian imajinasi kedalam rangkaian kata-kata yang di sebut puisi.
            Ketika puisi tersebut dibaca, pembaca bisa mengidentifikasi cirri-cirinya berdasarkan kata-kata yang digunakan penyair untuk mengekspresikan hasil proses kreatifnya. Hasil pengindetifikasian memberikan kesimpulan kepada pembaca baqhwa puisi yang satu dengan puisi yang lain berbeda. Walaupun demikian, antara beberapa puisi bisa mempunyai tingkat kemiripan yang tinggi. Biasanya terjadi pada puisi yang di ciptakan pada kurun waktu yang sama.
            Tahun 1980-an lahir puisi kontemporer, yaitu puisi yang mempunyai kekhasan dibandingkan dengan puisi lain. Slah satu puisi kontemporer yang terkenal adalah puisi “Mbeling”, puisi nakal yang mengungkapkan kenyataan di masyarakat secara terbuka dan bebas, tanpa melihat persyaratan penulisan yang menurut mereka “muluk-muluk”.

Kutipan 1

TANAH AIRMATA
( Sutardji Calzoum Bachri )


Tanah airmata tanah tumpah darahku
Mata air airmata kami
Airmata tanah air kami

Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami
Di balik gembur subur tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan derita kami

Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan duka lara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana

Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kamu takkan bisa menyingkir

Kemanapun melangkah
Kamu pijak airmata kami
Kemana pun terbang
Kamu khan hinggap di airmata kami
Kemanapun berlayar
Kamu arungi airmata kami

Kamu sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami


Kutipan 2

COMMUNICATION GAP
( Remy Sylado )

Ya
TUHAN
Tuhan Tuhan Tuhan
Tuhan
Tu
Han
Tu
Han
Tu
Hantu
Hantu Hantu
Hantu Hantu Hantu
HANTU
Ay

            Jika di perhatikan sekilas, puisi pada kutipan 1 bertemakan nasionalisme, dan kutipan 2 bertemakan ketuhanan ( puisi religius ). Jika di perhatikan temanya memang tepat, tapi setelah di pahami tema yang tepat adalah kritik terhadap keadaan yagn berkebalikan dengan nasionalisme dan ketuhanan.
            Puisi kutipan 1 bertema kritikan terhadap kesewenangan – wenangan Negara pada potensi alam dan sumber daya alam yang dilakukan oleh warga Negara yang tidak bertanggung jawab akibatnya timbulkan alam yang serba menyedihkan dan menyengsarakan rakyat. Perhatikan bagian puisi berikut :

            Disinilah kami berdiri
             Menyanyikan airmata kami
             Di balik gembur subur tanahmu
             Kami simpan perih kami
             Di balik eltase megah gedung-gedungmu
             Kami coba sembunyikan derita kami 

Dari bagian ini berartikan  tanah air yang subur akhirnya menjadi tanah yang tidak menyejahterakan, rakyat menderita karena pembangunan fisik yang tidak memperhatikan lingkungan.
            Puisi kutipan 2 mempunyai tema ketidakselarasan hubungan manusia dengan tuhan karena rendahnya keimanan manusia. Usaha manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada tuhan sangat minim, akibatnya terkadang bagi manusia seperti itu tuhan jusatru menjadi hantu.

            Tu
            Han
            Tu
            Han
            Tu
            Hantu

Kedua puisi di atas bertemakan kritik, dan itulah tema umum puisi kontemporer. Adapun dapat di temukan ciri – ciri puisi kontemporer yaitu :
1.      Ungkapannya berupa kelakar dan tidak ada maksud yang di sembunyikan
2.      Objek yang di kelakarkan bebas
3.      Kebanyakan kelakar tersebut mengandung kritik (sosial)
4.      Memerhatikan peran kata secara maksimal untuk berekspresi
5.      Memanfaatkankan arti, bunyi, dan tipografi secara maksimal
6.      Tipografi / bentuk penulisan bebas
7.      Menyampaikan kritik terhadap pejabat dan anggota mesayarakat yang mempunyai sikap moral tidak baik
8.      Mengandung ejekan tehadap penyair lain yang di sebut “penyair serius “

Puisi kontemporer pada awalnya muncul sebagai puisi dengan ganre ( jenis ) yang berbeda, lain dari pada yang lain di banding puisi pada umumnya. Puisi ini lebih menekankan peran kata baik segi arti, bunyi, maupun bentuknya. Kata dianggap sarana paling ampuh untuk menyampaikan maksud penyair kepada pembaca. Puisi kontemporer secara fisik terlihat memakai kata dan mengambil struktur puisi seolah-olah secara semaunya. Justru itu yang di inginkan penyair, dengan segala arti, bunyi, dan bentuk tampilan secara inkonvensional ( tidak berstuktuk dan tidak terikat  atau bebas ), kata mampu menyampaikan pesan secara maksimal. Sutarji menyebut kata adalah “mantra”.

Jika ingin mengetahui maksud isi puisi kontemporer, pembaca di tuntut menjiwai puisi, adapun maksud puisi kontemporer secara umum adalah :
a.       Mendobrak cara penulisan puisi yang konvensional
b.      Menyampaikan kritik
c.       Kritik dimaksudkan untuk mengajak pembaca melakukan perenungan.
d.      Kritik digunakan untuk mengajak pembaca melakukan refleksi dan selanjutnya melakukan perbaikan.

Jadi dalam pengentifikasikan tema / ciri – ciri puisi dengan cara :

1.      Membaca puisi tersebut
2.      Memahami puisi tersebut
3.      mengaitkan puisi tersebut dengan unsur-unsur puisi pada umumnya seperti Diksi (pilihan kata), Rima dan Ritma, serta Pengimajinasian
4.      setelah di kaitkan timbul perbedaan, maka itulah puisi kontemporer dari segi bentuk dan bunyi
5.      setelah di dapatkan demikian, maka pembaca dapat mengetahui karakter puisi tersebut dan itulah ciri-cirinya, dari ciri-ciri pembaca tinggal memahami alur maksud dari puisi.
6.      setelah di pahami, maka pembaca dengan sendirinya dapat menentukan tema, perasaan, nada atau suasana serta amanat dari puisi karena puisi kontemporer memakai kata dan mengambil stuktur puisi secara bebas jadi untuk penentuan tema dan ciri-ciri puisi, pembaca tinggal memahami dan memperhatikan kata – kata yang terdapat pada puisi



Menemukan Perbedaan Karakteristik Angkatan Melalui Membaca Karya Sastra Yang Di Anggap Penting Pada Tiap Periode


Pembabakan (periodisasi) karya sastra Indonesia sejak abad ke-20 dapat dibedakan menjadi Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45 dan Angkatan ’66. Pembabakan tersebut didasari pada urutan waktu ( lebih dari 1 dekade), perbedaan situasi dan kondisi, dan estetika.

1. Angkatan Balai Pustaka ( 1920 – 1933 )

            Adalah penamaan yang di berikan terhadap karangan – karangan yang di terbitkan bali Pustaka, yaitu muncul pada tahun 1920-an
Ciri-ciri karangan Balai Pustaka yaitu
a.       Tema yang di angkat adalah masalah adat istiadat
b.      Gaya bercerita yang bertele-tele
c.       Berisi nasihat
d.      Gaya bahasanya Melayu keseharian masyarakat Indonesia saat itu.
Karya-karya angkatan ini berupa Puisi, Prosa dan Roman-Roman (Novel), namun lebih banyak karya berupa Roman, adapun ciri-ciri roman pada angkatan ini :
1.      Berisi kritikan terhadap adat yang di nilai sudah tidak relevan dengan zaman
2.      Bertema kebanyakan suatu pertentangan
3.      Gaya bahasa dan komposisi cerita menyerupai hikayat – hikayat lama
4.      Melalui tokoh utama, pengarang sering menyampaikan nasihat panjang-panjang
5.      Sebelum menuju akahir cerita, tokoh mengalami pertualangan.


2. Angkatan Pujangga Baru ( 1933 – 1942 )

            Adalah penamaan bagi karangan-karangan para pengarang yang berkecimpung atau beriringan dengan terbitnya majalah Pujangga Baru
Ciri-ciri karangan angkatan pujangga baru :
a.       Bentuk karya sastranya lebih beragam, bukan saja roman yang lebih berani tetapi ada juga puisi dan Drama yang menunjukkan pertentangan
b.      Tema yang di angkat tentang emansipasi wanita, kehidupan masyarakat kota dan segala problematikanya serta kebebasan menentukan nasib sendiri di tengah persaingan, kebangkitan nasionalisme dan cita-cita nasional mencapai kemerdekaan
c.       Karya sastranya bersifat tendensius ( jelas, tidak bertele – tele ) dan didaktis ( menuntut suatu perubahan ) serta gaya bahasa mulai lepas dari struktur gaya bahasa Melayu
3. Angkatan ’45 ( 1942 – 1966 )

            Adalah penamaan bagi karangan-karangan para pengarang pada tahun 1940-an yaitu pada zaman penjajahan jepang dan zaman kemerdekaan Indonesia.
Ciri-ciri angkatan ’45 yaitu
a.       Temanya merupakan kebebasan individu
b.      Bahasa yang di gunakan adalah bahasa sehari-hari
c.       Keberanian dan kebebasan mengembangkan visi
d.      Terpengaruh dunia Internasional
Karya-karya yang di buat pada angkatan ini yaitu berupa puisi – puisi yang bebas, prosa yang jelas dan Roman ( Novel ) yang mempunyai karakter yaitu :
1.      memperlihatkan corak baru pada zamannya berupa kebebasan naturalisme baik dari bahasa, cerita yang di kemukakan dan cara mekukiskan pelaku-pelakunya.
2.      dalam cerita di lukisakan berupa fikiran pelaku jadi pembaca dituntut untuk berfikir aktif dalam mencari unsur-unsur ceritanya
3.      telah terlepas dari unsur-unsur tradisi lama dalam sastra
4.      pada angkatan ini roman mulai di sebut sebagai novel.


4. Angkatan ‘66

            Adalah penamaan yang diberikan kepada karangan-karangan pengarang yang giat menulis sastra dalam majalah-majalah dan kebudayaan dari tahun 1955-an sampai Sekarang
Ciri-ciri angkatan ini yaitu
a.       Gaya bahasa sehari - hari, bebas, dan campuran, bahkan gaya bahasa asing
b.      Tema tidak lagi terikat, tegantung dengan keinginan pengarang
c.       Lebih menekankan pendidikan bagi masyarakat ( berbagi ilmu sastra )
d.      Penulisan, maksud dan tujuan mudah di mengerti bagi pembaca.
Karya-karyanya sama dengan angkatan-angkatan sebelumnya namun lebih di kembangkan unsur-unsur instriktiknya agar mudah di mengerti dan bebas, suatu cerita yang di tulis di buku tidak lagi di sebut roman melainkan di sebut Novel.


Jadi dalam pengindentifikasian karakter tiap periode dalam karya sastra yaitu dengan cara :

1.      Pembaca mengetahui karya sartra yang ingin diketahui,terletak pada periode apa?, biasanya di suatu karya di terangkan dan di bubuhkan  kapan pembuatannya dari situ pembaca tahu karya itu terletak pada periode apa…
2.      Selanjutnya pembaca membaca dan memahami karya sastra yang mau di ketahui
3.      Setelah di baca dan dipahami pembaca membuat suatu kritik sastra yang berupa aspek-aspek analisis, interpretasi, dan evaluasi
4.      Setelah diketemukan hasil dari kritik sastra maka pembaca dapat dengan mudah menentukan ( mengindentifikasikan) ciri-ciri, tema dan apapun yang terdapat pada karya sastra ( karakteristik )
5.      untuk melakukan pengindentifikasian pembaca di tuntut untuk memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi.

Tidak ada komentar: